Sekolah Menulis (Aneuk Aceh) di Mesir
Angkatan ke IV, 2015
Sudah seperti
komunitas tersendiri bagiku jika bergabung dengan teman-teman sekolah menulis
Aceh, di Mesir. Teman-teman dan kakak senior yang fair membuat perkumpulan selalu happy.
Dari mereka
aku banyak belajar tentang dunia kepenulisan walau aku sudah mengenal penulisan
dari dulu, namun baru saat ini terasa sangat berat pengaruhnya, walau di awal
penulisan aku hanya menulis apa yang ada tanpa memikirkan ujung dari sebuah
ceritaku.
Ya, memang
sekolah menulis ini sangat cocok untuk kami yang pemula terutama aku, kami para
peserta di tekankan untuk menulis setiap hari sebanyak 900 kata dan harus di
setorkan ke setiap pembimbing paling lambat jam 12:00 malam, jika sehari kami
tidak menulis maka esoknya kami akan denda untuk menulis dua kali lipat,
bayangkan 1800 kata dalam sehari sangat berat bagi ku.
Setelah beberapa
hari terlewati, menulis 900 kata perhari begitu terasa ringan. Kadang sesekali
jika aku punya waktu luang aku akan mengirim lebih dari 900 kata.
Program yang
dilakukan di setiap angkatan hampir sama, targetnya 40 hari sudah bisa
menghasilkan karya, jika kita memang benar-benar serius semua itu akan tercapai
dengan mudah, “Ala bisa karena terpaksa” kata pepatah. Ini terbukti.
Dari sekolah
menulis inilah aku dapat merampungkan satu naskah novel, rasanya bahagia sudah
punya karya walau karya itu tidak sebagus punya Andrea, Tere Liye, dll. Dan
karyaku juga belum terpubliskan.
Karya itu
belum siap untuk aku publiskan, salah satunya aku merasa minder dengan karya
yang sangat-sangat sederhana itu, mungkin suatu saat nanti akan ada di pasaran
setelah aku bersedia dan setelah aku mengeditnya untuk kesekian kali.
Sekolah menulis
ini telah ada sejak tahun 2012 yang di bentuk oleh seorang penulis bernama
Faqih Bin Yusuf, beliau adalah penulis yang telah menghasilkan beberapa karya
diantaranya : Love in Somalia, Rindu Ilahi, dll.
Beliau ingin
mengajak para warga KMA untuk menulis agar menghasilkan paling sedikit satu
karya, karena menulis adalah suatu media yang tidak pernah pudar walau sampai
kapanpun.
“Orang
boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di
dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
#BS, siangbolong


Komentar
Posting Komentar