Fantasi, Tursinai.
| 19feb2016, puncak tursina. |
Banyak kenangan yang tercipta, namun
hanya sedikit yang mampu ku uraikan melalui pena ini. Perjalanan yang hanya
menghabiskan separuh waktu yang ku punya, mampu menciptakan seribu kenangan
yang sulit ku lupakan.
St Chatherine, Egypt. Yang mana
terdapat gunung sinai di sana. Baru pertama kali aku mengunjungi tempat ini
selama aku berada di sini. Walau tahun lalu Tuhan tidak mengizinkan dan
akhirnya tertunda, ternyata kesabaran membuahkan hasil, tahun ini kami resmi
berangkat rihlah summer tour ke sinai, tempat paling bersejarah dan mulia,
karena di bukit sinailah nabi Musa menerima wahyu dan bertemu Rabbi.
Sepanjang jalan hanya terlihat
bukit-bukit indah tak berpohon, dan sesekali terlihat hamparan gurun tak
berpenghuni, sesekali juga terlihat lautan yang seakan menyatu dengan langit.
Indah.
Melewati beberapa perkampunga yang seakan
tak ada penghuni, terlihat sangat asri tak berpolusi karena memang kendaraan
tak banyak di sana, hanya mungkin sesekali yang melintas.
Aku sempat melihat dua orang wanita
mengembala kambing-kambingnya, mereka bercadar. Aku jadi ingat zaman-zaman nabi
dulu, kehidupan di pendalaman ini memang tak jauh dari kebiasaan zaman dahulu,
namun yang membuatku heran hingga saat ini, apa yang di cari di antara kerikil
dan batu-batu oleh kambing-kambingnya, sedangkan jelas di sana tidak ada rumput
yang tumbuh.
Sebelum pendakian ke bukit sinai, kami
beristirahat terlebih dahulu di salah-satu hotel di sana, untuk menghilangkan
penat, karena sudah seharian di mobil. Badan serasa pegal-pegal tak menentu.
Jam 12 malam teng kami sudah harus
berkumpul untuk memulai pendakian, tapi ternyata pendakian baru di mulai tepat
jam 2 dini hari. Setelah aba-aba di berikan dan sedikit muqaddimah dari pak
ketua kami pun mulai mendaki.
Pendakian paling depan di posisikan
oleh para ikhwan kemudian akhwat dan kemudian ikhwan lagi, dengan menggunakan
lampu senter, kami mulai mendaki. Tak lupa basmalah dan mohon perlindungan dari
yang Maha Pelindungan.
Jarak sejauh 15 km, harus kami tempuh
malam itu juga, belum lagi 700 tangga yang akan kami naiki untuk benar-benar
sampai ke puncak.
Awal mendaki memang sangat
menyenangkan, tiba di sepertiga, kami mulai kelelahan beberpa di antar kami
harus beristirahat dan termasuk aku pribadi. Rasanya bagiku setiap pos yang aku
lewati tak ada yang tak ku singgahi, bau kotoran unta tak ku hiraukan lagi,
karena rasa lelah sudah menguasaiku begitu besar, namun tekad ku untuk bisa
sampai ke puncak, yang membuat ku takkan berhenti sebelum itu tercapai.
Aku ingin berteriak lepas, tapi aku sadar
di sana banyak ikhwan dan mereka rata-rata senior-seniorku. Walau dalam keadaan
apapun adap tetap harus di jaga.
Alhamdulillah hawa malam itu tak
begitu dingin, bersyukur aku tidak memakai kostum yang tebal, kalau iya pasti
sudah sangat gerah.
Jalan setapat berbatuan dan
bukit-bukit karang yang terjal telah habis kami lalui, tiba saatnya menaiki
tangga penentuan. Jika berhasil menaiki tangga hingga akhir maka kita pasti
akan sampai di puncak. Untuk menghemat energi aku menaiki satu persatu,
sesekali aku melihat kebelakang. Betapa bangganya, ternyata aku sudah
berjalan sejauh ini. Jika berhenti, kenapa harus memulai, maka harus kan ku teruskan.
Menaiki tangga perlu kehati-hatian,
karena di sampingnya maut menanti, jurang yang tak begitu dalam namun sangat
mengerikan. Rasanya cukup menjadi pelajaran dan penyesalan.
Azan subuh sudah berkumandang,
sedangkan aku masih di bawah. Beberapa temanku sudah menjadi the winner, beruntungnya mereka. Tapi
sekarang aku tak memikirkan the winner
lagi karena itu sudah ada yang punya. Ku hanya pikirkan bagaimana aku harus
tetap sampai ke puncak.
Berkat kesungguhan,kenekatan serta
kegigihan yang tetap aku pertahankan. Dengan izin-Nya aku pun tiba, di puncak
bukit tursina, di mana Nabi Musa menerima wahyu pertama dan bertemu dengan
Rabbina.
Sebuah kebanggan yang sangat luar
biasa, ketika aku dan semua yang hadir dapat bersujud pada ketinggian 2850m
dari permukaan laut. Di sana terdapat satu mesjid dan satu gereja yang
berukuran kecil. Setiap hamba yang datang dapat melakuan ritual menurut
kepercayaan masing-masing.
Bersyukur tiada tara, akhirnya aku pun
tiba di mana Nabi Musa juga pernah berada di tempat ku berdiri sekarang ini.
Jabal Musa.
#Bs


Komentar
Posting Komentar