RAMADHAN DI ALEXANDRIA

FASTABIKHUL KHAIRAT DI BULAN SUCI



Seusai menempuh ujian term II, di Al-Azhar. Sebagian para masisir (mahasiswa indonesia mesir) melakukan safar pulang ke kampung halaman. Berkumpul bersama orang-orang yang dicintai dalam menyambut bulan suci ramadhan.

Sebagian lainnya tetap menetap di negeri kinanah ini bersama teman-teman seperjuangan. Hubungan silaturrahhim yang terjalin menanjadikan hubungan sesama seakan seperti keluarga sendiri.

Tahun ini adalah kali ke dua saya menunaikan ibadah puasa bersama teman-teman, di negeri seribu menara ini. Suka dan duka kami lalui bersama. Serta menyibukkan diri masing-masing dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat agar rasa rindu akan kampung halaman dapat ditepis.

Ada yang belajar khaligrafi, tahsin, tahfidh, talaqi dan lain-lain. Saya pribadi memilih bertalaqi bersama Syeikh M.Musthafa Na’im yang sering disapa dengan Syeikh ‘Ala di Alexandria.
Untuk sampai ke Alexandria membutuhkan waktu selama tiga atau empat jam jika menggunakan bus dan lima jam jika menggunakan kereta api dari Cairo. Saya dan teman-teman yang juga ikut ke Alexandria memilih menggunakan kereta api, karena harganya lebih murah jika dibandingkan dengan Bus atau Tramco.

Saya sangat menikmati perjalanan ke Alexandria. Sepanjang jalan yang di lalui hanya ada hamparan luas yang hijau, tandus dan sesekali terlihat perumahan yang sederhana tidak terlalu tinggi seperti di Cairo. Mengingatkan saya akan kampung halaman. Tidak jauh bedanya, Jika saya pulang pergi antara Banda Aceh dan ABDYA. bedanya kalau di kampung melewati gunung-gunung dan perumahannya kebih banyak dari yang disini.

Tepat pukul 14.30 CLT, kami tiba di Alexandria. Kami disambut oleh kakak-kakak senior yang sudah berdomisili di sana. Melihat kami yang sangat kelelahan, mereka langsung membawa ke mesjid Amru Bin ‘Ash di Ashafirah tak jauh dari tempat tinggal Syeikh ‘Ala.

Tak lama kemudian azan ashar berkumandang, kami pun shalat berjamaah pertama kali di mesjid Amru dimana Syeikh ‘Ala sering mengadakan talaqi di mesjid tersebut. Usai shalat, zikir dan berdoa kami di bawa ke rumah yang sudah disediakan tapi diantara kami ada yang terpisah, karena satu rumah hanya cukup untuk enam atau tujuh orang.

Kami sangat bersyukur atas kemuliaan hati Syeikh ‘Ala, kami tidak perlu mengeluarkan uang untuk membayar sewa rumah, semuanya sudah disedikan oleh beliau sampai ke makanan pokok, seperti beras, ikan, daging, sayur mayur,minyak dan lain-lain. Hanya Allah yang dapat membalas ketulusan beliau. Kami hanya bisa ta’zim dan berdoa.

Setiap hari jumat kami dibawa oleh Syeikh ‘Ala untuk melaksanakan shalat jumat di mesjid Miina’ Syarqi yang mana khatibnya adalah Syeikh M. Ibrahim Abdul Bais Al Khattani, beliau adalah salah satu ahlu bait rasulullah yang tersisa dan beliau salah satunya muhaddisin dunia yang masih diberi umur panjang oleh Allah.

Usai shalat jum’at kami langsung menuju ke mesjid Al Qubbari. Di mesjid ini terdapat hadharah bersama Syeikh Abdussalam. Sangat indah rasanya jika bisa dekat dengan para wali-wali Allah, selalu ingat Allah dan bershalawat atas junjungan nabi Muhammad SAW.

Setelah hadharah di mesjid Al Qubbari, kami di bolehkan untuk bersalaman dengan Syeikh Abdussalam dan mengantarkan beliau hingga ke mobilnya. Kemudian kami melanjutkan ke mesjid Abdurrazaq untuk shalat ashar berjama’ah sekaligus istirahat sambil mendengar ceramah yang diselingi dengan shalawat kepada nabi Muhammad SAW.

Sebelum keluar dari masjid Abdurrazaq kami dibawa berziarah ke maqam aulia saidi Abdurrazaq yang terletak di dalam mesjidnya.

kemudian dilanjutkan berziarah ke maqam nabi Daniel dan Aulia Al hakim Luqman di mesjid Nabi Daniel, letaknya tidak jauh dari mesjid Abdurrazaq kami hanya membutuhkan beberapa menit untuk sampai ke sana dengan berjalan kaki. 

Oh ya, setiap kami berada di mesjid ada kakek-kakek, dengan keramahannya membagikan kami kurma-kurma kering untuk persiapan berbuka. Dinegeri inipun sangat banyak terdapat wali-wali Allah sehingga di juluki sebagai negeri para anbiya. 

Selesai agenda hari juma’at terlaksanakan, kamipun pulang tapi di sepanjang jalan macet karena waktu berbuka sudah hampir dekat, terasa sangat gerah jika harus berlama-lama di dalam bus dengan keadaan jalan yang macet. Tapi semuanya terobati dengan mengalihkan pandangan ke arah selatan, disana terdapat hamparan laut yang luas. 

Matahari yang mulai terbenam, membuat indah suasana laut dan langit. Mereka seakan-akan menyatu, inilah Alexandria kota tepi pantai yang sangat indah dengan bangunan yang menjulang tinggi sehingga negri ini disebut dengan negri seribu menara. 

Yang sangat menyenangkan ketika bulan puasa adalah para muhsinin yang berlomba-lomba beribadah dijalan Allah dengan bersedekah. Di jalan-jalan kita akan mendapatkan maidaturrahman tempat berbuka gratis yang disedikan oleh para muhsinin untuk orang yang berpuasa.

Tak jarang juga kita menjumpai orang-orang membagikan buku-buku gratis yang berisi hadis dan doa-doa, kadang kala juga mendapatkan makanan enak atau fulus.

Bagi perantau seperti kami sangat bersyukur jika bisa mendapatkan seperti itu, pernah saya bersama teman pulang dari markaz tahsin, ketika di jalan sedang buru-buru karena waktu berbuka sudah hampir dekat seorang bapak-bapak menghampiri kami, dan menyerahkan dua foum yang berbalut alumunium coil, merasa kaget karena tiba-tiba datang dari arah belakang. Setelah mengucapkan jazakallah beliau langsung pergi tanpa basa basi.

Sambil membawa makanan itu kami berdoa semoga Allah balas kebaikannya, serta berharap semoga ketulusan dan kebaikan orang-orang di sini dapat ketularan ke kami berdua dan kita semua sehingga nantinya dapat diterapkan di negeri sendiri terutama Aceh. Tentunya menjadi hamba-hamba dermawan yang di Ridhai-Nya.

#Alexandria,2015.

Komentar

Postingan Populer